Dasar dan Proses Penbelajaran Matematika

Disusun oleh:
Kelompok 2
Pendidikan Matematika
Universitas Islam Riau

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Lingkungan belajar merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur tujuan, bahan pelajaran, alat, siswa dan guru. Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi dan semuanya berfungsi dengan berorientasi pada tujuan. Seperti telah kita ketahui bahwa tugas utama guru ialah mengajar yang berarti membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan tertentu atau kompetensi. Tujuan atau kompetensi itu telah dirumuskan dalam kurikulum yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan proses pembelajaran.
Dalam  proses pembelajaran yang menjadi persoalan pokok ialah bagaimana memilih dan menentukan strategi pembelajaran atau strategi belajar mengajar (SBM). Strategi belajar mengajar menentukan jenis interaksi di dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran yang di gunakan harus menimbulkan aktivitas belajar yang baik, aktif, kreatif, efektif dan efesien, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.
Berkenaan dengan hal itu diperlukan strategi belajar mengajar. Dalam mengajar diperlukan suatu variasi. Dalam pengembangan variasi mengajar tentu saja tidak sembarangan tetapi ada tujuan yang hendak dicapai. Selain itu metode mengajar juga diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar. Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar mempengaruhi belajar, metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.
Dalam mengajar hendaknya guru menggunakan lebih dari satu metode. Dengan menguasai teori belajar mengajar peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan baik bahkan dapat memotivasi anak didik untuk berminat belajar matematika. Teori belajar mengajar matematika yang dikuasai para tenaga pendidik akan dapat diterapkan pada peserta didik jika dapat memilih strategi belajar mengajar yang tepat.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana terminologi tersebut dalam pembelajaran?
2. Bagaimana konsep dalam SBM Matematika?
1.3. Tujuan Masalah
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui terminologi dalam pembelajaran.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui konsep dalam SBM matematika.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Terminologi dalam Pembelajaran
A. Arti dan Makna Pembelajaran
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pihak pendidik, sedangkan belajar dilakukan peserta didik atau murid. Menurut Corey (dalam Syaiful Sagali, 2010:61) konsep suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Mengajar menurut William (dalam Syaiful Sagali, 2010:61) adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar tejadi proses belajar.
1. Konsep Pembelajaran
Sering dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti yang luas. Peranan guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitass belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonomi dan sebagainya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Syaiful Sagali, 2010:62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam mendessain intruksional, untuk membuat siswa belajar aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berifikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Pembelajaran mempunyai dua karakteristik yaitu Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa  sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berfikir. Kedua, dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka kontruksi sendiri.
Proses pembelajaran aktivitasnya dalam bentuk interaksi belajar mengaajar dalam suasana interaksi edukatif, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan, artinya interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan tertentu setidaknya adalah pencapaian tujuan interaksional atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan pada satuan pembelajaran. Menurut Knirk dan Gustafson (dalam Syaiful Sagali, 2010: 64) pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan perancangan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran itu dikembangkan melalui pola pembelajaran yang meenggambarkan kedudukan serta peran pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
2. Resource Based Learning
Belajar berdasarkan sumber (resource based learning) ialah segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu, jadi bukan dengan cara yang konvesional dimana guru menyampaikan bahan pelajaran murid, tetapi setiap komponen yang dapat memberikann informasi seperti perpustakaan, laboratorium, kebun, dan semacamnya juga merupakan sumber belajar. Sumber belajar tidak sama artinya dengan audio visual aids, dengan audio visual aids dimaksud adalah alat-alat yang membantu guru dalam kegiatan pembelajaran, karena itu juga disebut intructional aids, atau alat pengajaran. Terserah kepada guru untuk menggunakannya atau tidak, kebanyakan guru tidak merasa perlu untuk membuat atau menggunakannya. Akan tetapi “learning resources” atau sumber belajar yang esensial harus ditujukan kepada murid. Jadi sumber belajar ditujukan kepada murid bukan kepada guru.
Sumber yang sejak lama digunakan dalam pembelajaran adalah buku-buku dan hingga sekarang buku-buku masih memegang peranan yang penting. Oleh karena itu ahli perpustakaan mendapat peranan penting dalam resource based  learning ini. Metode ini dapat pula didasarkan atas penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pengajaran individual, dan pengajaran aktif yang penting setiap metode yang digunakan bertalian dengan tujuan yang akan dicapai.  Resources based learning tidak hanya sesuai dengan ilmu pelajaran sosial, tetapi juga ilmu pengetahuan alam, Nasution ( dalam Syaiful Sagali, 2010: 67).
Agar pembelajaran tetap pada suasana yang dinamis, guru perlu merumuskan dengan jelas tujuan apa yang ia ingin dicapainya dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan ini bukan hanya mengenai bahan materinajar yang harus dikuasai oelh guru, akan tetapi juga, keterampilan emosional dan sosial dalam menggunakan metode dam pendekatan pembelajaran. Belajar berdasarkan sumber berarti kerjasama antara seluruh staf dan penggunaan secara maksimal fasilitas yang terseddia seperti buku-buku perpustakaan, alat pengajaran, keahlian dan keterampilan guru serta anggota masyarakat yang bersedia memberi sumbangannya.

B. Pendekatan Belajar dan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruksional untuk suatu satuan intruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran sebagai penjelas untuk mmempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sistem  dan pendekatan pembelajaran dibuat karena adanya kebutuhan akan sistem dan pendekatan tersebut untuk meyakinkan (1) ada alasan untuk belajar, (2) siswa belum mengetahui apa yang diajarkan, oleh karena itu guru  menetapkan hassil-hasil belajar atau tujuan apa yang diharapkan akan dicapai (Syaiful Sagali, 2010:68-69).
a. Pendekatan Konsep
Menurut Syaiful Sagali (2010:710 Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekolompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berfikir abstrak, kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan.
Pendekatan pembelajaran seperti ini oleh para ahli pendidikan didasarkan pada pola pengorganisasian bahan pengajaran, yang meliputi pengajaran linear dan pengajaran komulatif. Pengajaran linear materi bidang studi terbagi atas urutan linear dengan kedalaman yang sama, pendekatan linear ini sering kali membuat murid cepat merasa bosan dan sukar mengingat fakta atau konsep yang diajarkan. Pada pendekatan komulatif ini diorganisasikan menurut urutan tertentu dengan jenjang kesulitan yang berbeda, yaitu meningkat. Jumlah unit yang diajarkan tidak sebanyak pendekatan linear, bahan ajar yang berupa konsep dan fakta menjadi banyak berkurang dibandingkan pada pendekatan dengan pengajaran linear. Pada pendekatan komulatif, pemahaman konsep atau fakta lebih ditekankan sebagai suatu pengertian konsep secara mendalam dan menyeluruh.
b. Pendekatan Proses
Menurut Syaiful Sagali (2010:74) Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran membentuk kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pembelajaran dengan menekankan kepada belajar proses dilatarbelakangi oleh konsep-konsep belajar menurut teori “Naturalisme Romantis” dan teori “Kognitif Gestalf”. Naturalisme Romantis lebih menekankan pada aktivitas siswa, sedangkan Kognitif Gestalf menekankan pada pemahaman dan kesatupaduan yang menyeluruh.Dalam pendekatan proses ini siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama temannya, dan dari manusia-manusia sumber diluar sekolah. Pendekatan proses pada hakikatnya adalah memproses informasi, yaitu informasi pembelajaran.
Proses pembelajaran sering kali terjadi kekeliruan, karena yang diutamakan hasil maka proses belajar kurang diperhatikan, demikian jiuga sebaliknya, karena yang diutamakan proses maka hasil diabaikan. Jadi hasil dan proses dalam kegiatan pembelajaran mempunyai kedudukan yang sama kuat, guru tidak dapat memperlakukannya berat sebelah, harus seimbang diantara keduanya. Pendekatan proses ini menggambarkan bahwa kegiatan belajar yang berlangsung disekolah bersifat formal, prosesnya disengaja dan direncanakan dengan bimbingan guru dan pendidik lainnya agar siswa mencapai tujuan dan menguasai bahan belajar yang diberikan guru sesuai dengan kurikulum untuk dipelajari.

2.2 Konsep dalam SBM (Strategi Belajar Mengajar) Matematika
A. Strategi belajar
Secara umum strategi mempuyai pengertian suatu garis haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berpikir yang digunakan oleh siswa dalam memengaruhi hal-hal yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Untuk menyelesaikan tugas belajar siswa memerlukan keterlibatan dalam proses berpikir dan perilaku, membaca sepintas lalu judul-judul utama, meringkas, dan membuat catatan, di samping itu juga memonitor jalan berpikir diri sendiri (Trianto, 2014 : 169).
B. Tujuan strategi belajar
Belajar pada dasarnya meliputi mengajari siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri sendiri. Pengajaran strategi belajar berdasarkan pada dalil bahwa keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pda kemahiran untuk belajar mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri. Hal inilah yang menjadikan strategi belajar mutlak diajarkan kepada siswa tersendiri mulai dari kelas enam SD dan terus berlanjut sampai sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
Menurut Djamarah (dalam Trianto, 2014 : 171), ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yaitu : pertama, mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. Kedua, memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur metode, dan teknik belajar mengajar paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya. Keempat, menetapkan norma-norma dan batas keberhasilan dan kriteria standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar, yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruktusional yang bersangkutan secara keseluruhan.
C. Pengajaran
1. Komponen-Komponen Pengajaran
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses sudah barang tentu harus dapat mengembangkan dan menjawab beberapa persoalan yang mendasar, mengenai :
a. Kemana proses tersebut akan diarahkan ?
b. Apa yang harus dibahas dalam proses tersebut ?
c. Bagaimana cara melakukannya ?
d. Bagaimana cara mengetahui berhasil tidaknya proses tersebut ?
Persoalan pertama yang berhubungan dengan tujuan dengan proses pengajaran, persoalan kedua berbicara tentang atau bahan pelajaran, persoalan ketika berhubungan dengan metode dan alat yang digunakan dalam proses pengajaran, persoalan keempat berkenaan dengan penilaian dalam proses pengajaran.
Keempat persoalan (tujuan, bahan, metode dan alat, serta penilaian) menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam proses belajar mengajar. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lain.














Tujuan dalam proses belajar-mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran (Nana Sudjana, 2014:30). Tujuan yang jelasdan operasional dapat ditetapkan bahan pelajaran yanh harus menjadi isi kegiatan belajar-mengajar. Bahan pelajaran inilah yang diharapkan dapat mmewarnai tujuan, mendukung tercapainya tujuan atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.
Metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar bahan yang telah ditetapkan sebelumnya, metode dan alat berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang ingin dicapai. Metode dan alat pengajaran yang digunakan harus betul-betul efektif dan efisien.


D. Konsep Dasar Mengajar
1. Mengajar Sebagai Proses Menyampaikan Materi Pelajaran
Menurut Wina Sanjaya (2010:95) kata “teach” atau mengajar berasal dari bahasa Innggris kuno, yaitu taecan. Kata ini berasal dari bahasa Jerman kuno (Old Teutenic), taikjan, yang berasal dari kata dasar teik, yang berarti memperlihatkan. Istilah mengajar (teach) juga berhubungan dengan token yang berarti tanda atau simbol. Kata token juga berasal dari bahasa jerman kuno, taiknom, yaitu pengetahuan dari taikjan. Dalam bahasa Inggris kuno taecan berarti to teach (mengajar). Secara deskriptif mengajara adalah sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini, mentransfer tidak diartikan dengan memindahkan, seperti misalnya mentransfer uang. Sebagai proses menyampaiakan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:
a. Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
Dalam kegiatan belajar mengajar guru mepunyai oeran yang sangat penting, guru menentukan segalanya. Karena sagat pentingnya peran guru, maka biasanya proses pengajaran hanya akan berlangsung manakala ada guru dan tak ,ungkin proses pembelajaran tanpa guru. Sehbungan dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru, maka minimal ada tiga peran utama guru yang harus dilakukan guru, yaitu sebagai penyampai informasi, sebagai evaluator. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pengajaran guru harus menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, misalnyamateri pelajaran apa yang harus disampaikan. Biasanya kriteria keberhasilan proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.
b. Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk menngembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya, sangat terbatas. Sebab, dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.

c. Kegiatan pengajaran terjadi pada  tempat dam waktu tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya terjadi dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehinggga siswa hanya belajar manakala ada kelas yang didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang telah ditentukan, seiring proses pengajaran terjadi sangat formal. Cara mempelajarinya pun seperti bagian-bagian yang terpisah, seakan-akan tak ada kaitannya antara materi pelajaran yang satu dengan yang lain.
d. Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan disekolah. Sedangkan matapelajaran itu sendiri adalah pengalaman-pengalaman manusia masa lalu yang secara sistematis dan logus kemudian diuraikan dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu yang harus dikuasai oleh siswa. Kadang-kadang siswa tidak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan tersebut. Oleh karena kriteria keberhasilan dtentukan oleh penguasaan materi pelajaran, maka alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes dari hasil belajar tertulis (paper and pencil test) yang dilaksanakan secara periodik.

2. Mengajar Sebagai Proses Mengatur Lingkungan
a. Mengajar berpusat pada siswa (student centered)
 Mengajar tidak ditentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat ditentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik yang harus dipelajari,  bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang menentukan tetapi juga siswa. Dengan demikian, guru berubah fungsinya dari sumber belajar menjadi fasilitator, artinya guru lebih banyak sebagai orang yang membantu siswa untuk belajar. Siswa tidak dianggap sebagai objek belajar yang dapat diatur dan dibatasi oleh kemauan guru, melainkan siswa ditempatkan sebagai subjek yang belajar sesuai nakat, minat, dam kemampuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, materi apa yang seharusnya dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan guru, tetapi memperhatikan setiap perbedaan siswa.

b. Siswa dianggap sebagai subjek belajar
Dalam konsep mengajar sebagai proses mengatur linngkungan, siswa tidak dianggap sebagai organisme yang pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai organisme yang aktif, yang memiliki potensi untuk berkembang. Mereka adalah individu yang memiliki kemampuan dan potensi.

c. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukanlah penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses untuk mengubah tingkah laku siswa dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itulah penguasaan materi pelajaran bukanlah akhir dari proses pengajaran, akan tetapihanya sebagai tujuan antara untuk pembentukan tingkah laku yang lebih luas, aetinya sejauh mana materi pelajaran yang dikuasai oleh siswa dapat membentuk pola perilaku siswa itu sendiri. Untuk itulah metode dan strategi yang digunakan berbagai metode, seperti diskusi, penugasan, kunjungan ke objek-objek tertentu dan lain sebagainya.

E. Metode Mengajar
1. Jenis-Jenis Metode Mengajar
Proses belajar mengajar yang baik , hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode mengajar secara bergantian atau saling membantu satu sama lain (Nana Sudjana, 2014:76). Ditinjau dari segi penerapannya, metode-metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar dan ada yang tepat untuk jumlah kecil. Ada juga yang tepat digunakan di dalam kelas atau diluar kelas. Dibawah ini akan diuraikan secara singkat metode-metode mengajar yang sampai saat ini massih banyak digunakan dalam proses belajar-mengajar.
a. Metode Ceramah
Ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek apabila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas kemungkinan dalam penggunaan metode ini, yakni:
Perlu diperhatikan, bahwa ceramah akan berhasil baik bila didukung atau dibantu oleh metode-metode yang lain, misalnya: tanya jawab, tugas, latihan, dan lain-lain. Metode ceramah ini wajar digunakan apabila:
1) Ingin mengajarkan topik baru
2) Tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa
3) Memghadapi sejumlah siswa yang cukup banyak.
b. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa (Nana Sudjana, 2014: 78). Guru bertanya siswa menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi  ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa.
c. Metode Diskusi
Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama (Nana Sudjana, 2014:79). Dalam diskusi, tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham dibina bersama.
d. Metode Tugas Belajar dan Resitasi
Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan dirumah, disekolah, diperpustakaan, dan ditempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karena itu tugas dapat diberikan secara individual, atau dapat pula secara kelompok.
e. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok).
f. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Demontrasi dan eksperimen merupakn metode mengajar yang  sanga efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar. Demontrasi yang dimaksud adalah suatu metode mengajar yang memperlihatkan bagaiman proses terjadinya sesuatu. Dalam pelaksanaannya demontrasi dulu dan eksperimen dapat digabungkan, artinya demontrasi dulu lalu diikuti dengan eksperimen.
g. Metode Sosiodrama (role-playing)
Metode sosiodrama dan  role playing dapat dikatakan sama artinya, dan dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatiskan  tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.
h. Metode Problem Solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.


3.1. Kesimpulan
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran mempunyai dua karakteristik yaitu pertama dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktifitas siswa dalam proses berfikir. Kedua, dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka kontruksi sendiri. Pendekatan dalam pembelajaran terbagi menjadi:
a. Pendekatan konsep
b. Pendekatan proses
Konsep dalam SBM matematika meliputi:
a. Strategi belajar
b. Tujuan strategi belajar
c. Pengajaran
d. Konsep dasar mengajar
e. Metode mengajar

DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Badar, Trianto.2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada 
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.
Sudjana, Nana. 2014. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA (BAHASA INDINESIA)

Makalah Microsoft Visual Basic