MAKALAH MANUSIA DAN PANDANGANNYA TERHADAP PENDIDIKAN SEBAGAI PENGEMBANGAN MANUSIA YANG SEMPURNA (LANDASAN PENDIDIKAN)
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas segala
berkat,rahmat,serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah
ini dalam mata kuliah Landasan Pendidikan, dengan judul “Manusia dan
Pandangannya Terhadap Pendidikan Sebagai Pengembangan Manusia yang Sempurna”.
Kami berterima kasih kepada Ibu Dra Nurhuda M.Pd selaku dosen mata kuliah
Landasan Pendidikan program studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Matematika Universitas Islam Riau yang telah memberikan kepercayaan kepada kami
untuk menyelesaikan tugas ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum
sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penyusun berharap
makalah ini dapat memberikan pembelajaran kepada pembaca.
Pekanbaru,
September 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..............................................................................................................................i
DAFTAR
ISI............................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................................1
1.1. Latar
Belakang...........................................................................................................................1
1.2. Rumusan
Masalah......................................................................................................................2
1.3. Tujuan
Penulisan.......................................................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN.........................................................................................................................3
2.1 Manusia dan
Ilmu Pengetahuan..................................................................................................3
2.2 Manusia dan
Pendidikan.............................................................................................................7
2.3 Hakikat
Manusia.........................................................................................................................8
2.4 Hakikat dan
Teori Pendidikan..................................................................................................10
2.5 Hubungan
Hakikat Manusia Dengan Pendidikan.....................................................................12
2.6 Karakteristik
Sosok Manusia Indonesia....................................................................................13
BAB III PENUTUP...............................................................................................................................16
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................................16
3.2 Kritik dan
Saran........................................................................................................................16
DAFTAR RUJUKAN............................................................................................................................17
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak
lahir seorang manusia sudah langsung terlibat di dalam kegiatan pendidikan dan
pembelajaran. Dia dirawat, dilatih, dijaga, dan dididik oleh orang tua,
keluarga dan masyarakatnya menuju tingkat kematangan, sampai kemudian terbentuk
potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan hidupnya.
Pada dasarnya manusia
adalah makhluk yang mampu untuk berpikir, merasa, bersikap dan bertindak.
Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk Allah
yang lainnya, untuk itu manusia sekarang
ini dituntut untuk bias bersikap serta bertindak sesuai dengan kodratnya sebagai
khalifah di muka bumi ini. Sikap serta tindakan disini diartikan sebagai suatu bentuk
penalaran yang menghasilakan pengetahuan yang nantinya dikaitkan dengan kegiatan
berfikir dan bukan dengan perasaan. Dengan demikian perlu disadari bahwa tidak semua
kegiatan berfikir itu menyandarkan diri pada penalaran akan tetapi, untuk bias menemukan
suatu penemuan yang benar dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Karena manusia pendidikan mutlak ada
dan karena pendidikan, manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia
yang manusiawi. Di dalam konteks pendidikan, manusia adalah makhluk yang selalu
mencoba memerankan diri sebagai subjek dan objek. Sebagai subjek, selalu berusaha
mendidik dirinya (sebagai objek) untuk perbaikan perilakunya.
Jelaslah bahwa pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia,
baik pendidikan yang berlangsung secara alami oleh orang tua atau masyarakat terlebih
pendidikan tersistem yang diselenggarakan oleh sekolah. Jadi kesimpulannya adalah
manusia memiliki beberapa potensi yang ada pada dirinya, yaitu potensi intelektual,
rasa. karsa, karya dan religi yang bias dan akan ditumbuh dan kembangkan melalui
proses pendidikan yang baik dan terarah.
Pada dasarnya manusia adalah
makhluk yang mampu untuk berpikir,merasa,bersikap dan bertindak. Manusia
dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk Allah yang
lainnya, untuk itu manusia sekarang ini dituntut untuk bisa bersikap serta
bertindak sesuai dengan kodratnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Sikap
serta tindakan disini diartikan sebagai suatu bentuk penalaran yang
menghasilakan pengetahuan yang nantinya dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan
bukan dengan perasaan. Dengan demikian perlu disadari bahwa tidak semua
kegiatan berfikir itu menyandarkan diri pada penalaran akan tetapi, untuk bisa
menemukan suatu penemuan yang benar dan sesuai dengan perkembangan jaman.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana manusia terhadap ilmu
pengetahuan?
2. Bagaimana manusia terhadap
pendidikan?
3. Bagaimana hakikat manusia?
4. Bagaimana hakikat dan teori
pendidikan?
5. Apa hubungan hakikat
manusia dengan pendidikan?
6. Bagaimana
karakteristik sosok manusia Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Mahasiswa mengetahui
hubungan manusia dan ilmu pengetahuan.
2.
Mahasiswa mengetahui
hubungan manusia dan pendidikan.
3.
Mahasiswa mengetahui
hakikat manusia.
4.
Mahasiswa mengetahui
hakikat dan teori pendidikan.
5.
Mahasiswa mengetahui
apa hubungan manusia dengan pendidikan.
6.
Mahasiswa mengetahui
karakteristik sosok manusia di Indonesia.
PEMBAHASAN
2.1 MANUSIA
DAN ILMU PENGETAHUAN
Manusia adalah sebuah makhluk yang unik.
Meskipun kita tahu bahwa kita manusia bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah
untuk melukiskan apa yang unik pada manusia jika dibandingkan dengan makhluk
hidup lain. Manusia juga memiliki ciri psikologis dan tingkah laku yang unik
dan membedakannya dengan makhluk lain. Ia adalah makhluk bermoral yang mampu
mengembangkan struktur kemasyarakatan yang kompleks. Hal lain yang tidak kalah
pntingnya adalah perkembangan otak manusia yang memungkinkan manusia berpikir
rasional dan mengembangkan kemampuan berbahasa. Kesemuanya di atas membuat manusia
mampu mengembangkan apa yang kita sebut sebagai budaya, sebuah cara hidup yang
diteruskan turun temurun ke generasi berikutnya, yang dipakai untuk
mempertahankan hidupnya serta mampun menjawab tantangan dunia termasuk ilmu
perkembangan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia dapat
membuat, mengembangkan, menemukan semua yang di inginkan. Jadi hubungan manusia
dengan ilmu pengetahuan yaitu manusia sebagai subjek atau pelaku yang menemukan
dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Manusia adalah makhluk yang serba
terhubung, dengan masyarakat, lingkungannya, dirinya sendiri, dan Tuhan.
Beerling mengemukakan sinyalemen Heinemann bahwa pada abad ke-20 manusia
mengalami krisis total. Disebut demikian karena yang dilanda krisis bukan hanya
segi-segi tertentu dari kehidupan seperti krisis ekonomi, krisis energy, dan
sebagainya, melainkan yang krisis adalah manusianya sendiri (Prof. Dr.
Tirtarahardjadan La Sulo, 2005: 15)
Manusia merupakan mahluk cerdas yang
diciptakan lengkap dengaan segala atributnya “akal” yang dapat mendorong rasa
ingin tahunya selalu berkembang. Berbeda dengan rasa ingin tahu yang dimiliki
oleh binatang yang didorong oleh naluri dan instingnya saja atau incouriorcity,
rasa ingin tahu yang dimilik oleh manusia ”couriorcity”
selalu berkembang sesuai dengan kebutuhannya.
Kemampuan manusia untuk menggunakan akal
dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berfikir,
dengan berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan
memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari
aktivitas berfikir. Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh
pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi
penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Pada dasarnya
mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan
berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya
di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang
tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada
Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan
akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an.
Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat
berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan
berbuat dia beramal bagi kehidupan. Semua ini pendasarannya adalah penggunaan
akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah
pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin
mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan
berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya
manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih
baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang
kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).
Kemampuan untuk berubah dan perubahan
yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan berfikir
dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan berfikirlah, maka manusia dapat
berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya. Bahkan dengan berfikir manusia
mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk
kehidupannya. Semua itu, pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia
berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai
kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini.
Manusia dapat mengambil keputusan
terletak pada kemampuan manusia untuk berfikir dan bernalar, sedangkan
kemampuan berfikir dan bernalar itu dimungkinkan pada manusia karena ia
memiliki susunan otak yang paling sederhana disbanding dengan otak berbagai
jenis makhluk hidup lainnya. Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan
pengetahuan yang baru. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak
sama, maka kegitan berfikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itupun
berbeda-beda karena masing-masing mempunyai yang disebut dengan criteria
kebenaran yang merupakan suatu proses penemuan kebenaran tersebut. Manusia
berfikir dan bernalar untuk mengumpulkan pengetahuan yang tersembunyi di alam
raya ini. Proses mengumpulkan pengetahuan merupakan suatu proses belajar yang
dialami manusia sejak ia lahir hingga ke liang lahat. Kemudian pengetahuan yang
dikumpulkan manusia melalu penggunaan akalnya disusun menjadi suatu bentuk yang
berpola.
Secara umum tiap perkembangan dalam ide,
konsep dan sebagainya dapat disebut berfikir. Akan tetapi, pemikiran keilmuan
bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang
bersungguh-sungguh yang artinya suatu cara yang berfikir yang disiplin dimana
seseorang yang berfikir sungguh-sungguh tidak akan membiarkan ide dan konsep
yang sedang difikirkannya brkelana tanpa arah, namun semua itu akan
diarahkannya pada suatu tujuan tertentu. Berfikir keilmuan sering digunakan
oleh para peneliti dan juga penemuan yang mempunyai minat untuk terus mengolah
pemikiran mereka sehingga menghasilkan suatu ilmu atapun konsep. Orang yang berfikir
keilmuan tidak akan membiarkan ide atau konsep yang ada difikirannya hilang
begitu saja. Tetapi dalam bidang keilmuan, berfikir seperti ini ternyata kurang
penting karena titik berat terletak dalam usaha untuk memahami objek yang belum
ditetapkan dan cara berfikir seperti ini dinamakan penalaran (reasoning).
Ilmu atau ilmu pengetahuan secara bahasa
bisa diartikan sebagai memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan
penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan,
dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan
sebagainya.
Ilmu atau ilmu
pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan,
dan meningkatkan pemahaman manusia
dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu pengetahuan adalah sarana
atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa
dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang
sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu
yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa,
diwaktu kecil kita belajar membaca huruf abjad, lalu berlanjut menelaah
kata-kata dan seiring bertambahnya usia secara sadar atau tidak sadar
sebenarnya kita terus belajar membaca, hanya saja yang dibaca sudah berkembang
bukan hanya dalam bentuk bahasa tulis namun membaca alam semesta seisinya
sebagai usaha dalam menemukan kebenaran. Dengan ilmu maka hidup menjadi mudah,
karena ilmu juga merupakan alat untuk menjalani kehidupan.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan
(knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori
yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode
yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu
terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang
dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu pengetahuan yang
dimilki oleh manusia pada dasarnya dikembangkan dengan cara:
1)
menginformasikannya melalui
alat komunikasi “bahasa”. Dengan
bahasa maka ilmu yang ada dalam pikiran dapat diinformasikannya atau dapat
divisualisasikan
2)
manusia memiliki akal dan
pikiran yang dibangun oleh nalar atau sebuah alur kerangka berfikirnya. Ilmu
pengetahuan yang semakin berkembang selalu diciptakan oleh manusia demi
mensejahterakan dan mempermudah proses hidupnya.Seperti filsafat, sains,
teknologi, sastra serta ilmu pengetahuan lainnya.
Ilmu pengetahuan
memiliki posisi dan kedudukan yang sangat penting dalam menopang kesejahteraan
umat manusia karena dengan ilmu pengetahuan maka manusia selain dapat
mensejahterakan hidupnya dan mencari nilai-nilai hakiki serta memaknai arti
sebuah kehidupan dalam hidupnya. Ilmu pengetahuan yang tercipta dengan tujuan
kesejahteraan serta mencari kebenaran-kebenaran akan makna sebuah hidup yang
selalu berkembang desebabkan karena manusia itu sendiri secara berkelompok
merupakan masyarakat pembelajar yang selalu belajar dari sebuah pengalaman-pengalaman
sebelumnya dan belajar dari apa-apa yang dilihatnya, didengarnya, dirasakannya
serta dilakukannya. Sedangkan secara personal “individu”, manusia itu pun
merupakan binatang “berakal” pembelajar yang baik dan selalu bersifat dinamis.
Sebagai makhluk yang
paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya, manusia diberi
oleh Tuhan beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu
akal dan daya nalar. Kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar itu
dimungkinkan pada manusia karena ia memiliki susunan otak yang paling sempurna
dibandingkan dengan otak berbagai jenis makhluk hidup lainnya. Oleh
karena itu, dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu terus berusaha untuk
menambah dan mengumpulkan llmu pengetahuannya. Ilmu pengetahuan yang didapatkan
adalah untuk memelihara bumi ini dari segala kerusakan, karena manusia diutus
untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Manusia mendapatkan ilmu pengetahuan
dari pengalaman yang didapatkannya (empiris) dan juga logika yang
mereka miliki (rasional) dari
pengalaman tersebut manusia terus-terusan mengolahnya dengan cara berpikir
sehingga menghasilkan suatu ilmu pengetahuan. Manusia yang cerdas akan mampu
menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola muka bumi ini.
Namun, tidak selamanya pengetahuan yang diperoleh manusia ini bermanfaat, ada
juga pengetahuan yang ternyata menimbulkan suatu permasalahan ataupun mudarat.
Pengetahuan adalah
kumpulan fakta-fakta . Tanggapan terhadap gejala-gejala alam merupakan suatu
pengalaman. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan.
Perkembangan pengetahuan karena didorong dua faktor pertama untuk memuaskan
diri guna memahami hakekat kebenaran dan kedua untuk meningkatkan status (taraf
hidup)
Pengetahuan mampu
dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni:
1)
Manusia mempunyai bahasa yang mampu
mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi
tersebut.
2)
Manusia mempunyai kemampuan
berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu yang disebut penalaran.
Dengan berpikir,
manusia berkesempatan mendapatkan pendidikan membentuk sistem kekeluargaan yang
akhirnya terbentuk manusia yang cerdas sehingga dapat bermasyarakat dengan
baik. Tanpa kecerdasan yang bersumber dari kemampuan berpikir, manusia tidak
mampu menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola bumi dan
memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
2.2 MANUSIA
DAN PENDIDIKAN
Manusia
dimana pun ia berada, dipastikan akan butuh dengan pendidikan, hal ini disebabkan
karena fungsi utama dari pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi manusia
yang ada kearah lebih baik atau kearah yang menjadicita-cita manusia. Karenanya
dapat dipastikan pendidikan tidak akan berjalan tanpa kehadiran manusia. Dalam pendidikan,
manusia berperan sebagai subjek sekaligus objek pendidikan.
Pendidikan merupakanhal yang sangat penting bagi
kehidupan manusia. Karena dengan pendidikan manusia dapat mengetahui sesuatu
yang belum diketahuinya dan menggali sumber daya manusia yang berkualitas.
Sejak lahir manusia membutuhkan pendidikan. Pada saat itu
pendidikan yang paling berperan yaitu orang tua. Orang tua sebagai seorang
pendidik sudah seharusnya mengetahui tujuan pendidikan itu sendiri dan
bagaimana langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Begitu juga dengan
seorang guru yang harus mampu membimbing peserta didik ke arah tujuan
pendidikan.
Pendidikan bagi manusia dapat diartikan sebagai
keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasika, mengenai apapun bentuk isi,
tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan
tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan
pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pedidikan di sekolah misalnya di
tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat manusia
mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan,
meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya
mewujudkan kemampuan ganda yakni disuatu sisi mampu mengembangkan kepribadian
secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial
budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan.
Pendidikan juga berpengaruh menuntun timbulnya rohani dan
jasmani kanak-kanak, memberikn kesempatan padanya guna mengembangkan bakat dan
kesukaannya masing-masing dan memberikan dasar-dasar pengetahuan, kecakapan,
dan ketangkasan. Dan juga untuk mengembangkan cita-cita hidup serta membimbing
kesanggupan murid sebagai anggota masyarakat, mendidik tenaga-tenaga ahli dalam
berbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan
masyarakat atau mempersiapkan bagi pendidikan dan pengajaran tinggi.
ManusiaadalahmakhlukciptaanTuhan
yang paling sempurna. Bukti paling kongkrityaitumanusiamemilikikemampuanintelegesidandayanalarsehingga manusia mampu berfikir, berbuat, dan bertindak
untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan sebagai manusia yang utuh.
Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya. Dalam
kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan berkembang
melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat jasmani maupun
bersifat rohani. Oleh sebab itu, manusia memerlukan pendidikan demi mendapatkan
perkembangan yang optimal sebagai manusia.
2.3 HAKIKAT MANUSIA
Sasaran
pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk
menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiannya. Manusia dapat diartikan
sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara
istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan
atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Manusia memiliki
cirri khas yang prinsipil dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Misalnya cirri
khas manusia dari hewan, terbentuk dari perkumpulan terpadu dari apa yang
dimaksud dengan sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena
secara hakiki sifat tersebuat hanya dimiliki oleh manusia yang tidak terdapat
pada hewan. Hakikat manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki
kesadaran susila (etika) dalam arti ia dapat memahami norma-norma social dan
mampu berbuat sesuai dengan norma dan kaidah etika yang diyakininya.
Pendapat
lain mengenai Hakikat Manusia adalah sebagai berikut:
1) Makhluk
yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi
kbutuhan-kebutuhannya.
2) Individu
yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atasa tingkah laku
intelektual dan social
3) Yang
mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol
dirinya dan mampu menentukan nasibnya
4) Makhluk
hidup yang dalam proses mnjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah
selesai (tuntas) selama hidupnya
5) Individu
yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan diri
sendiri. Mampu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
6) Suatu
keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan
potensi yang tak terbatas
Pada
dasarnya ada dua pokok persoalan tentang hakikat manusia
1) Manusia
atau hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini.
2) Sifat
manusia dan karakteristik yang menjadi cirri khususnya serta hubungannya dengan
fitrah manusia.
Ragam
pemahaman tentang hakikat manusia sebagai berikut:
1. Homo
Religius: Pandangan tentang sosok manusia dan hakikat manusia sebagai makhluk
yang beragam. Manusia diciptakan Tuhan YME dimuka bumi ini sebagai makhluk yang
paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya. Melalui
kesempurnaannya itulah manusia bias berfikir, bertindak, berusaha dan bias
menentukan mana yang baik dan benar. Disisi lain manusia meyakini bahwa ia
memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu
Tuhan sang pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia,
pada hakikatnya manusia adalah makhluk rekigius yang mempercayai adanya sang
maha pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan dimuka bumi.
2. Homo
Sapiens: Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang bijaksana dan dapat
berfikir atau sebagai animal rationale. Hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang paling tinggi dan paling mulia. Hal ini disebabkan oleh manusia
karena memiliki akal, pikiran, rasio, daya nalar, cipta dan karsa, sehingga
manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya. Manusia sebagai
organisme kehidupan dapat tumbuh dan berkembang, namun yang membedakan manusia
dengan makhluk lainnya adalah manusia memiliki daya pikir sehingga ia bias
berbicara, berfikir, berbuat, belajar, dan memiliki cita-cita sebagai dambaan
dalam menjalankan kehidupan yang lebih baik.
3. Homo
Faber: Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang berpiranti (perkakas).
Manusia dengan akal dan keterampilan tangannya dapat menciptakan atau
menghasilkan ssuatu (sebagai produsen) dan pada pihak lain ia juga mnggunakan
karya lain (sebagai konsumen) untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya.
Melalui kemampuan dan daya pikir yang dimilikinya, serta ditunjang oleh daya
ipta dan karsa, manusia dapat berkiprah lebih luas dalam tatanan organisasi
kemasyarakatan menuju kehidupan yang lebih baik.
4. Homo
Homini Socius: Kendati manusia sebagai makhluk individu, makhluk yang memiliki
jati diri, yang mmiliki cirri pembeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Namun pada saat yang bersamaan manusia juga sebagai kawan social bagi manusia
lainnya. Ia senantiasa berinteraksi dengan lingkungannya. Ia berhubungan satu
sama lain dan membentuk suatu masyarakat tertentu. Walaupun terdapat pendapat
yang berlawanan, ada yang menyebut manusia adalah serigala manusia lain (Homo
Homini Lupus). Pemahaman yang terakhir inilah yang harus dihindarkan agar tidak
terjadi malapetaka dimuka bumi ini. Sejarah telah membktikan adanya perang saudara
ataupun pertikaian antarbangsa, pada akhirnya hanya membuahkan derajat
peradapan manusia semakin tercabik-cabik dan terhempaskan.
2.4 HAKIKAT
DAN TEORI PENDIDIKAN
Redja Mudyahardjo (2001:91)
menegaskan bahwa sebuah teori berisi konsep-konsep, ada yang berfungsi sebagai:
a.
Asumsi atau
konsep-konsep yang menjadi dasar atau titik tolak pemikiran sebuah teori
b.
Konsep-konsep yang
menyatakan bahwa makna dari istilah-istilah yang dipergunakan dalam menyusun
teori
Asumsi
pokok pendidikan adalah:
a.
Pendidikan adalah actual,
artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi actual dari individu yang
belajar dan lingkungan belajar.
b.
Pendidikan adalah
normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau
norma-norma yang baik.
c.
Pendidikan adalah suatu
proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan
bermula dari kondisi-kondisi aktual dan individu yang belajar, tertuju pada
pencapaian individu yang diharapkan.
Pendidikan
dipandang dari sudut keilmuan tertentu seperti:
a. Sosiologik
memandang pendidikan dari aspek social, yaitu mengartikan pendidikan sebagai
usaha pewarisan dari generasi ke generasi.
b. Antrophologi
memandang pendidikan adalah enkulturasi yaitu proses pemindahan budaya dari
generasi ke generasi.
c. Psikologik
memandang pendidikan dari aspek tingkah laku individu, yaitu mengartikan
pendidikan sebagai perkembangan kapasitas individu secara optimal. Psikologi
menurut Woodward dan Maquis (1955:3) adalah studi tentang kegiatan-kegiatan
atau tingkah laku individu dalam keseluruhan ruang hidupnya.
d. Ekonomi,
yaitu memandang pendidikan sebagai usaha penanaman modal insani (human capital)
yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
e. Politik
yang melihat pendidikan adalah proses
menjadi warga negara yang diharapkan (civilisasi) sebagai usahapembinaan
kader bangsa yang tangguh.
Pendidikan selalu dapat
dibedakan menjadi teori dan praktek, teori pendidikan adalah pengetahuan tentang
magna dan bagaimana soyogyanya pendidikan itu dilaksanakan, sedangkan praktek adalah
tentang pelaksanaan pendidikan secara konkretnya. Teori pendidikan disusun seperti
latar belakang yang hakiki dan sebagai rasional dari praktek pendidikan serta pada
dasarnya bersifat direktif. Istilah direktif member makna bahwa pendidikan itu mengarah
pada tujuan yang hakikatnya untuk mencapai kesejahteraan bagi subjek didik.
Menurut Redja
Mudyahardjo (2001:91), sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem
konsep-konsep yang terpadu, menerangkan, dan prediktif tentang
peristiwa-peristiwa pendidikan.
2.5 Hubungan
Hakikat Manusia Dengan Pendidikan
Pada
hakikatnya manusia adalah makhluk yang dapat di didik. Disamping itu menurut Langeveld, manusia juga bisa disebut
sebagai Animal Educandum yang artinya
manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang harus di didik dan homo educandus yang bermakna bahwa
manusia merupakan makhluk yang bukan hanya harus dan di didik namun juga harus
dan dapat mendidik. Persoalannya adalah mengapa garapan pendidikan merupakan
suatu keharusan bagi manusia, mengapa manusia harus di didik dan mendidik. Hal
tersebut dapat di tinjau dari beberapa hal antara lain:
a)
Hakikat anak sebagai
manusia
Setiap anak
telah Tuhan ciptakan dengan beragam potensi yang berbeda-beda. Meraka adalah
makhluk yang unik, yang satu sama lain tidak bisa disamaratakan ataupun
dibanding-bandingkan. Tanggung jawab orang tua adalah mengasih dan mengarahkan
mereka ke arah yang positif, dan bukan untuk menentukan piliihan masa depan
mereka. Anak adalah tunas berpotensi,generasi penerus yang merupakan variable
dari kelangsungan hidup keluarga,masyarakat,bangsa,nnegara dan agama. Oleh
karena itu anak perlu dibekali dengan penghidupan dan pendidikan yang layak dan
berkualitas. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, berkembang secara
optimal mental, sosial dan kepribadiannya. Sebagai manusia yang lemah,
anak-anak membutuhkan bantuan dari orang dewasa dalam mendapatkan stimulus,
pembelajaran, dan pendidikan dalam sebuah proses yang bersistem dan
berkesinambungan. Namun mereka juga adalah individu yang memiliki pola
perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dari orang dewasa, sehingga
mereka tidak bisa diperlakukan selayaknya orang dewasa yang berbentuk mini.
Di samping
membutuhkan bantuan dari orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan orang-orang
di sekitarnya termasuk dengan anak-anak yang seusianya. Meraka perlu
bersosialisasi, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan orang lain, karena anak
adalah makhluk sosial. Pendidikan yang diberikan kepada anak senantiasa
bersifat wholistic atau secara keseluruhan. Bukan hanya pendidikan akademis
saja, melainkan juga yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan religiusitas
yang sudah diberikan sejak dini. Harus disadari bahwa mereka adalah makhluk
yang bertuhan,dan kesadaran ini akan dimiliki secara optimal oleh anak jika
sudah dihabituasikan sejak usia dini.
b) Manusia
dengan sifat kemanusiaannya dan sebagai makhluk budaya
Kegiatan mendidik adalah sifat yang khas dimiliki
manusia. Immanuel Kat mengatakan “Manusia hanya dapat menjadi manusia karna
pendidikan” jadi jika manusia tak di didik maka ia takan menjadi manusia dalam
arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil
penelitian terhadap anak terlantar yang dalam perkembangannya menjadi anak
liar.
Konsespsi
hakikat anak sebagai manusia, juga merefleksikan setiap individu memiliki
berbagai kemungkinan dalam perkembangannya. Manusia dengan budi,rasa dan
karsanya menciptakan kebudayaan. Agar manusia dapat hidup dan menghayati dunia
kebudayaan tadi, manusia patut dilengkapi dengan nilai-nilai atau norma kebudayaaan
yang sepatutnya disampaikan dalam garapan pendidikan. Dengan demikian
pendidikan pada hakikatnya adalah proses kebudayaan yaitu suatu proses yang
berkesinambungan yang mengangkat harkat dan martabat manusia dari dunia alam
(the world of nature) menuju kehidupan yang bercirikan dunia kebudayaan (the
world of cultur). Aliran kebudayaan dalam pendidikan ini dipelopori oleh
Sprager yang mengutamakan masalah penyampaian norma, nilai kebudayaan, dan
peradaban manusia yaitu dalam bentuk politik,sosial,ekonomi,keagamaan,ilmu
pengetahuan serta kesenian.
Berdasarkan konsep yang dikemukakan diatas,
pendidikan merupakan proses kebudayaan guna meningkatkan harkat dan mertabat
manusia, merupakan proses yang panjang dan berlangsung sepanjang hayat.
Pendidikan terjadi melalui interaksi insaane dan tanpa batas ruang dan waktu.
Pendidikan tidak hanya dimulai dan diakhiri disekolah, pendidikan dimulai dari
lingkungan keluarga, dilanjutkan dan ditempa di lingkungan sekolah. Kemudian
proses pendidikan itu diperkaya dalam lingkungan masyarakat dan hasil-hasilnya
dapat digunakan dalam membangun kehidupan pribadi, agama, keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara untuk mengaitkan derajat peradaban umat manusia.
2.6 Karakteristik
Sosok Manusia Indonesia
Sejak
tahun 1989, dengan diberlakukannya undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang
sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional di rumuskan sebagai
berikut: pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan bangsa indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur memiliki
pengetahuan dan keterampilankesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pancasila
sebagai kepribadiaan bangsa Indonesia merupakan kerangka acuan mendasar dalam
menetapkan tujuan pendidikan nasional. Mengkaji konsep pancasila sebagai dasar
negara serta rumusan TPN di atas, secara tersirat ada tiga hal yang cukup
mendasar sebagai karakteristik sosok manusia Indonesia, yaitu berkaitan dengan
tiga hal: moral, ilmu dan amal. Oleh sebab itu pancasila sebagai falsafah
bangsa yang mewarnai grapan pendidikan nasional dan dasar bagi pembentukan
manusia Indonesia seutuhnya, sepatutnya dilihat dari 4 dimensi yaitu :
A. Dimensi
Intelektual
Sosok manusia Indonesia yang
memiliki pandangan, wawasan ilmu pengetahuan, terampil dalam mengomunikasikan
pengetahuan, dan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi, serta tidak
teraoriori terhadap pengetahuan orang lain.
B. Dimensi
Sosial
Sosok manusia Indoneisa yang
memiliki hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya,
engetahui hak dan kewajiban sebagai warga negara.
C. Dimensi
Personal
Sosok manusia yang memiliki
pertumbuhan dan kesehatan, stabilitas emosional, kesehatan moral.
D. Dimensi
Produktivitas
Sosok manusia Indonesia yang
meiliki kesanggupan memilih keahlian atau pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya untuk mempertinggi keterampilan, mampu menempatkan diri sebagai
konsumen dan produsen yang baik,kreatif, dan berkarya.
Prof. Dr. Umar Tirtahardjadan dan
La Sulo 2005:17 macam dimensi yaitu:
1. Dimensi
keindualan
Lysen mengartikan individu sebagai
orang-seorang, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat
dibagi-bagi (in devide)
2. Dimensi
Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruniai
potensi sosialitas demikian kata (M.J.Langeveld, 1955 : 54 dalam buku Prof. Dr.
Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 2005 : 17) Pernyataan tersebut diartikan bahwa
setiap anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya, setiap orang
dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya di dalamnya terkandung unsur
saling memberi dan saling menerima.
3. Dimensi
Kesusilaan
Susisla berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di
dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika
didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung.
Karena itu maka pengertian susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti
menjadi kebaikan yang lebih.
4. Dimensi
Keberagamaan
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk
yang religius. Sejak dahulu kal, sebelum manusia mengenal agama mereka telah
percaya bahwa diluar alam yang dapat dijangkau dengan perentaraan alat
indranya, diyakini akan adanya kekuatan sepranatural yang menguasai hidup alam
semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan
tersebut diciptakanlah mitos-mitos. Misalnya untuk meminta sesuatu dari
kekuatan-kekuatan tersebut dan dilakukan bermacam-macam upacara, menyediakan
sesajen-sesajen dan memberikan korban-korban. Sikap dan kebiasaan yang
membudaya pada nenek moyang kita seperti itu dipandang sebagai embrio dari
kehidupan manusia dalam beragama.
KESIMPULAN
Manusia
dalam menjalani kehidupannya tidak bisa terpisahkan dengan pendidikan dan ilmu
pengetahuan. Pendidkan pada intinya untuk membantu manusia menjadi
‘dewasa’ dan matang secara pribadi sehingga mereka betultumbuh menjadi
pribadi-pribadi yang unggul secara individu yang secara akumulatif akan
membentuk formasi kehidupan sosial bermasyarakat yang unggul pula
berbasis pada tata susila secara baik.
Sifat
hakikat manusia hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan.
Ciri-ciri yang khas tersebut membedakan
secara prinsipil dunia hewan dan dunia manusia. Adanya sifat hakikat tersebut
memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya
lebih tinggi daripada hewan dan sekaligus menguasai hewan. Semua hakikat
manusia data dan harus ditumbuhkembangkan melalui pendidikan. Berkat pendidikan
maka sifat hakikat manusia dapat ditumbuh kembangkan secara laras dan berimbang
sehingga menjadi manusia yang utuh.
DAFTAR RUJUKAN
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja., Drs. S. L. La Sulo. 2005.
Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT
Asdi Mahasatya
Redja
Mudyahardjo. 2001. Pengantar
Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo
Komentar